Rasanya tak ada yang lebih menggembirakan jika apa yang dinantikan selama ini akhirnya terbayar. Itu pula yang dirasakan oleh penggawa timnas voli putra Indonesia pasca menundukan tuan rumah, Filipina pada final SEA Games 2019.

Akhir manis memang layak didapatkan Indonesia. Sejak pertandingan cabor voli dilaksanakan mulai Senin (2/12/2019), timnas yang bergabung di pool B tak hanya tampil impresif tapi juga bermental baja.

Tengok saja ketika mereka dengan gemilang melewati hadangan salah satu pesaing terberat, Vietnam dengan kemenangan 3 set langsung (25-20, 25-22, 25-21).

Di pertandingan kedua, giliran Kamboja yang menantang Nizar Julfikar dkk. Tertinggal lebih dulu di dua set dengan 20-25 dan 17-25. Kamboja memberikan perlawanan sengit di set 3 hingga memaksakan deuce, sebelum akhirnya Indonesia menutup laga dengan kemenangan 33-35.

Dua kemenangan memastikan Indonesia melenggang ke semifinal, tapi siapa lawannya dari pool A? Itu yang ditentukan pada pertandingan ketiga, kali ini Filipina sebagai tuan rumah yang juga sama-sama mengantongi poin 6 jadi musuh terakhir di fase pool.

Bentrok dengan Filipina jelas tak mudah, anak asuh Li Quijang bahkan sempat tertinggal di awal set pertama sebelum akhirnya membalikkan keadaan dan menang tipis 25-23.

Set 2 berjalan semakin alot. Filipina yang tak ingin kalah mudah terus menempel ketat perolehan angka Indonesia. Alhasil deuce pun kembali terjadi.

Filipina bahkan sempat memimpin perolehan angka terlebih dahulu. Sayangnya, Bryan Bagunas cs gagal memanfaatkan peluang tersebut dan kembali menyerah 30-32.

Pada set 3, jalannya pertandingan seperti ulangan set pertama. Indonesia tertinggal dalam perolehan angka hingga momentum keunggulan Filipina sukses diputus setelah 3 angka beruntung diperoleh lewat block Dony dan Rivan yang jatuh di bidang permainan dalam Filipina.

Indonesia menutup fase penyisihan dengan raihan sempurna, 3 kemenangan dengan 9 poin. Hal ini membuat Indonesia sebagai juara pool B akan menghadapi Myanmar yang keluar sebagai runner-up pool A di semifinal.

Laga semifinal dengan Myanmar sebenarnya pernah terjadi pada SEA Games 2017 lalu. Saat itu tim Myanmar nyaris saja menikung Indonesia. Bertanding selama 5 set, Indonesia yang kala itu diarsiteki Samsul Jais mampu unggul 3-2 dan lolos ke final.

Memory tersebut tentu tak ingin kembali terulang. Indonesia langsung tancap gas, menekan sejak awal dan tak memberikan kesempatan Myanmar untuk melakukan variasi serangan yang menyulitkan.

Indonesia tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan pertandingan dengan skor 3-0 (25-19, 25-23, 25-15). Tiket pertama babak final menjadi milik Indonesia.

Filipina dan Kenangan 1977
Coba tanyakan pada seluruh pecinta voli tanah air tentang lawan timnas kita di laga final. Mungkin sebagian besar akan memprediksi Thailand.

Itu tidak salah, sebab tim asal Negeri Gajah Putih memegang titel medali emas SEA Games 4 kali beruntun sejak 2011-2017. Tentu saja hal itu membuat mereka menjadi favorit dan diprediksi akan menantang Indonesia di laga pamungkas.

Namun, prediksi ya tinggal prediksi, beda cerita jika sudah di lapangan. Itu pula yang terjadi pada semifinal kedua voli indoor putra yang mempertemukan Thailand versus Filipina.

Jika Indonesia dapat dibilang mampu melewati semifinal dengan mulus, maka tak demikian dengan Filipina. Meski tak difavoritkan lolos ke final, Filipina membuktikan  layak tampil sebagai kekuatan baru voli Asia Tenggara.

Tertinggal lebih dulu 1-2 (17-25, 25-20, 23-25,), Filipina mampu bangkit membuat skor sama kuat 2-2 lewat keunggulan tipis 27-25 di set 4.

Pertandingan di set terakhir tentu saja berjalan sengit, Filipina yang terus tertinggal berbalik memimpin 13-12 dan menuntaskan pertandingan dengan 17-15.

Filipina untuk kali kedua akan bermain di laga puncak SEA Games 2019. Pencapaian tertinggil tim voli putra Filipina terjadi pada SEA Games pertama tahun 1977. Saat itu Filipina juga mampu lolos ke final dan meraih perak.

10 Tahun Menunggu Sudah Cukup, Selamat Datang Kembali Medali Emas
Sama-sama rindu medali, baik Indonesia maupun Filipina siap tampil habis-habisan di pertandingan terakhir.

Terlebih bagi tuan rumah yang juga mengusung ambisi balas dendam atas kekalahan yang diderita di fase pool sebelumnya.

Indonesia yang pada partai final menurunkan komposisi terbaiknya yakni outside spiker yang diisi oleh Sigit Ardian dan Dony Haryono, lalu Putu Randu dan Yuda Mardiansyah di posisi middle blocker, sedang posisi setter tentunya ditempati sang kapten, Nizar Julfikar, Fahreza Rakha sebagai libero, serta the one and only, Rivan Nurmulki sebagai opposite.

Komposisi tersebut serupa dengan yang diturunkan pelatih Li Quijang di semifinal menghadapi Myanmar.

Sepanjang laga yang digelar di Philsport Arena pada Selasa (10/12/2019), timnas tak henti-hentinya mendapat tekanan dari ribuan supporter tuan rumah.

Namun, tekanan tersebut nyatanya tak bisa dengan mudah merontokkan mental tim Indonesia. Sebaliknya, Filipina justru terlihat bermain dalam tekanan hingga tertinggal jauh 0-5 pada set pembuka.

Selisih 5 poin tentunya menjadi keuntungan tersendiri bagi tim Indonesia yang berhasil dipertahankan hingga set pertama selesai dengan skor 25-21.

Tak ingin menyerah mudah, Filipina mencoba bangkit di set kedua. Ribuan suporter yang memadati arena pertandingan semakin bergemuruh saat Rivan Nurmulki melakukan kesalahan karena menyentuh net saat melakukan spike.

Filipina menahan laju poin dan menyamakan angka 24-24.

Drama deuce seperti yang terjadi di pertemuan pertama kembali terulang. Filipina lagi-lagi mampu unggul lebih dulu 25-24. Tapi, untuk kedua kalinya, ketenangan dan mental baja para pemain Indonesia jadi kunci utama dan faktor pembeda.

Indonesia seolah tak ingin memberikan kesempatan lawan untuk merebut set 2 dan duet block Rivan dan Yuda jadi tembok tebal yang tak mampu dilewati smash Marck Espejo. Indonesia menang 27-25.

Semakin tertekan, variasi serangan Filipina tidak nampak terlihat di set 3. Penampilan Indonesia justru semakin menjadi dan membuat gemuruh suporter di Philsport perlahan mereda dan memimpin 20-13.

Terus menjaga jarak, tim voli putra menyudahi pertandingan setelah spike keras Rivan Nurmulki menghujam keras lapangan lawan.

Indonesia menutup laga prestisus tersebut dengan 3-0 (25-19, 27-25, 25-17). Indonesia membayar lunas penantian 10 tahun sejak terakhir kali membawa pulang medali emas pada SEA Games Laos 2009 lalu.

Kemenangan tim Garuda tak hanya karena strategi jitu yang diracik tim pelatih, namun juga mentalitas yang ditunjukan pemain. Hal tersebut diungkapkan kapten timnas, Nizar Julfikar saat sesi wawancara dengan media usai pertandingan.

“Kami mencoba membuat lingkup sendiri di lapangan, jadi meski penonton ramai itu tidak berpengaruh sama sekali. Tapi kami pun harus pintar-pintar menjaga kontrol diri karena di satu sisi susah berkomunikasi,” ujar pemain bernomor punggung 20 itu.

Di pertandingan tersebut, outside spiker muda Indonesia, Dony Haryono menjadi top score tim dengan raihan 20 angka.

Memberikan kesempatan pada Dony Haryono untuk menggantikan peran Rendy Tamamilang di posisi outside jadi keputusan tepat yang diambil Mr Li.

Pemain yang baru berusia 20 tahun itu tak hanya dapat mendulang angka lewat spike kerasnya saja, namun juga melalui block bahkan tak jarang kecerdikannya melakukan penempatan bola kerap menyusahkan lawan.

Thailand Pastikan Raih Perunggu
Sementara itu, di pertandingan sebelumnya final, timnas Thailand meladeni Myanmar di perebutan medali perunggu.

Sang juara bertahan itu tak juga membutuhkan waktu panjang untuk mengalahkan Myanmar dengan kemenangan telak 3-0 (25-23, 25-16, 25-20).

Timnas Voli Putra Indonesia meraih medali emas SEA Games 2019| Sumber: Twitter official SEA Games 2019 @The2019SEAGames

Vietnam dan Kamboja yang berebut peringkat 5, berakhir dengan kemenangan Vietnam 3-0 (25-15, 25-20, 25-22). Di peringkat paling buncit, yakni 7 dihuni oleh Singapura yang tidak mampu meraih satu pun kemenangan.

Thailand, Vietnam, dan Indonesia memang tengah menjalani masa transisi dengan menurunkan skuad yang sebagian besar diisi pemain junior.

Pada SEA Games 2021 yang kemungkinan besar akan dihelat di Vietnam, para pemain junior tersebut tentunya akan semakin matang dan persaingan antara 4 negara termasuk Filipina diprediksi akan semakin ketat dan sengit.

Semoga Indonesia tetap dapat mempertahankan medali emas dua tahu mendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here